Kisah Taubatnya Ibnu Taimiyyah

Shortlink:

Oleh NU Garis Lurus

makam-ibnu-taimiyahAs Syaikh Ibnu Syakir Al-Kutuby adalah ulama yang hidup sezaman dengan Ibnu Taimiyyah. Dalam salah satu kitab tarikhnya juz 20 yang telah diabadikan oleh seorang ulama besar dari kalangan Ahlus sunnah yang terkenal di seluruh penjuru dunia yaitu Amirul Mukminin fil Hadits Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Astqolani dalam kitabnya ” Ad-Duroru Al-Kaaminah ” dan beliau juga penyarah kitab Shohih Bukhori yang dinamakan Fathu Al-Bari. Berikut penuturan beliau yang begitu panjang namun kami singkat dengan tanpa menghilangkan maksud tujuannya :

Sidang Pertama:
” Di tahun 705 di hari ke delapan bulan Rajab, Ibnu Taimiyyah disidang dalam satu majlis persidangan yang dihadiri oleh para penguasa dan para ulama ahli fiqih di hadapan wakil sulthon. Maka Ibnu Taimiyyah ditanya tentang aqidahnya, lalu ia mengutarakan sedikit dari aqidahnya. Kemudian dihadirkan kitab aqidahnya Al-Wasithiyyah dan dibacakan dalam persidangan, maka terjadilah pembahasan yang banyak dan masih ada sisa pembahasan yang ditunda untuk sidang berikutnya.

Dan di tahun 707 hari ke-6 bulan Rabi’ul Awwal hari kamis, Ibnu Taimiyyah menyatakan taubatnya dari akidah dan ajaran sesatnya di hadapan para ulama Ahlus sunnah wal jama’ah dari kalangan empat madzhab, bahkan ia membuat perjanjian kepada para ulama dan hakim dengan tertulis dan tanda tangan untuk tidak kembali ke ajaran sesatnya, namun setelah itu ia pun masih sering membuat fatwa-fatwa nyeleneh dan mengkhianati surat perjanjiannya hingga akhirnya ia mondar-mandir masuk penjara dan wafat di penjara sebagaimana nanti akan diutarakan ucapan dari para ulama. Berikut ini pernyataan Ibnu taimiyyah tentang pertaubatannya :

ﺍﻟﺤﻤﺪ ﺍﻟﻠﻪ، ﺍﻟﺬﻱ ﺃﻋﺘﻘﺪﻩ ﺃﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺮﺀﺍﻥ ﻣﻌﻨﻰ ﻗﺎﺋﻢ ﺑﺬﺍﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻫﻮ ﺻﻔﺔ ﻣﻦ ﺻﻔﺎﺕ ﺫﺍﺗﻪ ﺍﻟﻘﺪﻳﻤﺔ ﺍﻷﺯﻟﻴﺔ ﻭﻫﻮ ﻏﻴﺮ ﻣﺨﻠﻮﻕ، ﻭﻟﻴﺲ ﺑﺤﺮﻑ ﻭﻻ ﺻﻮﺕ، ﻭﻟﻴﺲ ﻫﻮ ﺣﺎﻻ ﻓﻲ ﻣﺨﻠﻮﻕ ﺃﺻﻼ ﻭﻻ ﻭﺭﻕ ﻭﻻ ﺣﺒﺮ ﻭﻻ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ، ﻭﺍﻟﺬﻱ ﺃﻋﺘﻘﺪﻩ
ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ : ? ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﻋﻠﻰ ﺁﻟﻌﺮﺵ ﺁﺳﺘﻮﻯ ? [ ﺳﻮﺭﺓ ﻃﻪ] ﺃﻧﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺍﻟﺤﺎﺿﺮﻭﻥ ﻭﻟﻴﺲ ﻋﻠﻰ ﺣﻘﻴﻘﺘﻪ ﻭﻇﺎﻫﺮﻩ،
ﻭﻻ ﺃﻋﻠﻢ ﻛﻨﻪ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﻪ، ﺑﻞ ﻻ ﻳﻌﻠﻢ ﺫﻟﻚ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ، ﻭﺍﻟﻘﻮﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺰﻭﻝ ﻛﺎﻟﻘﻮﻝ ﻓﻲ ﺍﻻﺳﺘﻮﺍﺀ ﺃﻗﻮﻝ ﻓﻴﻪ ﻣﺎ ﺃﻗﻮﻝ ﻓﻴﻪ ﻻ ﺃﻋﺮﻑ ﻛﻨﻪ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﻪ ﺑﻞ ﻻ ﻳﻌﻠﻢ ﺫﻟﻚ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ، ﻭﻟﻴﺲ ﻋﻠﻰ ﺣﻘﻴﻘﺘﻪ ﻭﻇﺎﻫﺮﻩ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺍﻟﺤﺎﺿﺮﻭﻥ، ﻭﻛﻞ ﻣﺎ ﻳﺨﺎﻟﻒ ﻫﺬﺍ ﺍﻻﻋﺘﻘﺎﺩ ﻓﻬﻮ ﺑﺎﻃﻞ، ﻭﻛﻞ ﻣﺎ ﻓﻲ ﺧﻄﻲ ﺃﻭ ﻟﻔﻈﻲ ﻣﻤﺎ ﻳﺨﺎﻟﻒ ﺫﻟﻚ ﻓﻬﻮ ﺑﺎﻃﻞ، ﻭﻛﻞ ﻣﺎ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻣﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﺇﺿﻼﻝ ﺍﻟﺨﻠﻖ ﺃﻭ ﻧﺴﺒﺔ ﻣﺎ ﻻ ﻳﻠﻴﻖ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺇﻟﻴﻪ ﻓﺄﻧﺎ ﺑﺮﻱﺀ ﻣﻨﻪ ﻓﻘﺪ ﺗﺒﺮﺃﺕ ﻣﻨﻪ ﻭﺗﺎﺋﺐ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﻛﻞ ﻣﺎ ﻳﺨﺎﻟﻔﻪ ﻭﻛﻞ ﻣﺎ ﻛﺘﺒﺘﻪ ﻭﻗﻠﺘﻪ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻮﺭﻗﺔ ﻓﺄﻧﺎ ﻣﺨﺘﺎﺭ ﻓﻰ ﺫﻟﻚ ﻏﻴﺮ ﻣﻜﺮﻩ.
(ﻛﺘﺒﻪ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺗﻴﻤﻴﺔ) ﻭﺫﻟﻚ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺨﻤﻴﺲ ﺳﺎﺩﺱ ﺷﻬﺮ ﺭﺑﻴﻊ ﺍﻵﺧﺮ ﺳﻨﺔ ﺳﺒﻊ ﻭﺳﺒﻌﻤﺎﺋﺔ .

” Segala puji bagi Allah yang aku yakini bahwa di dalam Al-Quran memiliki makna yang berdiri dengan Dzat Allah Swt yaitu sifat dari sifat-sifat Dzat Allah Swt yang maha dahulu lagi maha azali dan al- Quran bukanlah makhluq, bukan berupa huruf dan suara, bukan suatu keadaan bagi makhluk sama sekali dan juga bukan berupa kertas dan tinta dan bukan yang lainnya.

Dan aku meyakini bahwa firman Allah Swt ” ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﻋﻠﻰ ﺁﻟﻌﺮﺵ ﺁﺳﺘﻮﻯ adalah apa yang telah dikatakan oleh para jama’ah (ulama) yang hadir ini dan bukanlah istawa itu secara hakekat dan dhohirnya, dan aku pun tidak mengetahui arti dan maksud yang sesungguhnya kecuali Allah Swt, bukan istawa secara hakekat dan dhohir seperti yang dinyatakan oleh jama’ah yang hadir ini. Semua yang bertentangan dengan akidah ini adalah batil.

Dan semua apa yang ada dalam tulisanku dan ucapanku yang bertentangan dari semua itu adalah batil. Semua apa yang telah aku gtulis dan ucapkan sebelumnya adalah suatu penyesatan kepada umat atau penisbatan sesuatu yang tidak layak bagi Allah Swt, maka aku berlepas diri dan menjauhkan diri dari semua itu. Aku bertaubat kepada Allah dari ajaran yang menyalahi-Nya. Dan semua yang aku dan aku ucapkan di kertas ini maka aku dengan suka rela tanpa adanya paksaan ”

Telah menulisnya :
(Ahmad Ibnu Taimiyyah)
Kamis, 6-Rabiul Awwal-707 H.

Di atas surat pernyaan itu telah ditanda tangani di bagian atasnya oleh Ketua hakim, Badruddin bin jama’ah. Pernyataan ini telah disaksikan, diakui dan ditanda tangani oleh :

– Muhammad bin Ibrahim Asy-Syafi’i, beliau menyatakan :
ﺍﻋﺘﺮﻑ ﻋﻨﺪﻱ ﺑﻜﻞ ﻣﺎ ﻛﺘﺒﻪ ﺑﺨﻄﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺎﺭﻳﺦ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭ
(Aku mengakui segala apa yang telah dinyatakan oleh Ibnu Taimiyyah ditanggal tersebut)

– Abdul Ghoni bin Muhammad Al-Hanbali :
ﺍﻋﺘﺮﻑ ﺑﻜﻞ ﻣﺎ ﻛﺘﺐ ﺑﺨﻄﻪ (Aku mengakui apa yang telah dinyatakannya)

– Ahmad bin Rif’ah

– Abdul Aziz An-Namrowi : ﺃﻗﺮ ﺑﺬﻟﻚ (Aku mengakuinya)

– Ali bin Miuhammad bin Khoththob Al- Baji Asy-Syafi’I : ﺃﻗﺮ ﺑﺬﻟﻚ ﻛﻠﻪ ﺑﺘﺎﺭﻳﺨﻪ (Aku mengakui itu dengan tanggalnya)

– Hasan bin Ahmad bin Muhammad Al- Husaini : ﺟﺮﻯ ﺫﻟﻚ ﺑﺤﻀﻮﺭﻱ ﻓﻲ ﺗﺎﺭﻳﺨﻪ (Ini terjad di hadapanku dengan tanggalnya)

– Abdullah bin jama’ah (Aku mengakuinya)

– Muhammad bin Utsman Al-Barbajubi : ﺃﻗﺰ ﺑﺬﻟﻚ ﻭﻛﺘﺒﻪ ﺑﺤﻀﻮﺭﻱ (Aku mengakuinya dan menulisnya dihadapanku)

Mereka semua adalah para ulama besar di masa itu salah satunya adalah syaikh Ibnu Rif’ah yang telah mengarang kitab Al- Matlabu Al-‘Aali ” syarah dari kitab Al- Wasith Al Ghozali sebanyak 40 jilid. Namun faktanya Ibnu Taimiyah tidak lama melanggar perjanjian tersebut dan kembali lagi dengan ajaran-ajaran menyimpangnya. Sampai-sampai dikatakan oleh seorang ulama :

ﻟﻜﻦ ﻟﻢ ﺗﻤﺾ ﻣﺪﺓ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﺣﺘﻰ ﻧﻘﺾ ﺍﺑﻦ ﺗﻴﻤﻴﺔ ﻋﻬﻮﺩﻩ ﻭﻣﻮﺍﺛﻴﻘﻪ ﻛﻤﺎ ﻫﻮ ﻋﺎﺩﺓ ﺃﺋﻤﺔ ﺍﻟﻀﻼﻝ ﻭﺭﺟﻊ ﺇﻟﻰ ﻋﺎﺩﺗﻪ ﺍﻟﻘﺪﻳﻤﺔ ﻓﻲ ﺍﻹﺿﻼﻝ .

” Akan tetapi tidak lama setelah itu Ibnu Taimiyyah melanggar perjanjian dan pernyataannya itu sebegaimana kebiasaan para imam sesat dan ia kembali pada kebiasaan lamanya di dalam menyesatkan umat ”

Sidang kedua :
Diadakan hari jum’ah hari ke-12 dari bulan Rajab. Ikut hadir saat itu seorang ulama besar Shofiyuddin Al-Hindiy. Maka mulailah pembahasan, mereka mewakilkan kepada syaikh Kamaluddin Az-Zamalkani dan akhirnya beliau memenangkan diskusi itu, beliau telah membungkam habis Ibnu Taimiyyah dalam persidangan tersebut. Ibnu Taimiyyah merasa khawatir atas dirinya, maka ia memberi kesaksian pada orang-orang yang hadir bahwa ia mengaku bermadzhab Syafi’i dan beraqidah dengan aqidah imam Syafi’i. Maka orang-orang ridho dengannya dan mereka pun pulang.

Sidang ketiga :
Sebelumnya Ibnu Taimiyyah mengaku bermadzhab Syafi’i, namun pada kenyataannya ia masih membuat ulah dengan fatwa-fatwa yang aneh-aneh sehingga banyak mempengaruhi orang lain. Maka pada akhir bulan Rajab, para ulama ahli fiqih dan para qodhi berkumpul di satu persidangan yang dihadiri wakil shulthon saat itu. Maka mereka semua saling membahas tentang permasalahan aqidah dan berjalanlah persidangan sbgaimana persidangan yang pertama.

Setelah beberapa hari datanglah surat dari sulthon untuk berangkat bersama seorang utusan dari Mesir dengan permintaan ketua qodhi Najmuddin. Di antara isi surat tersebut berbunyi ” Kalian mengetahui apa yang terjadi di tahun 98 tentang aqidah Ibnu Taimiyyah “. Maka mereka bertanya kepada orang-orang tentang apa yang terjadi pada Ibnu
Taimiyyah. Maka orang-orang mendatangkan aqidah Ibnu Taimiyyah kepada qodhi Jalaluddin Al-Quzwaini yang pernah dihadapkan kepada ketua qodhi imamuddin. Maka mereka membincangkan masalah ini kepada Raja supaya mengirim surat untuk masalah inidan raja pun menyetujuinya.

Kemudian setelah itu Raja memerintahkan syamsuddin Muhammad Al-Muhamadar untuk mendatangi Ibnu Taimiyyah dan ia pun berkata kepada Ibnu Taimiyyah ” Raja telah memerintahkanmu untuk pergi esok hari. Maka Ibnu Taimiyyah berangkat ditemani oleh dua Abdullah dan Abdurrahman serta beberapa jama’ahnya.

Sidang keempat :
Maka pada hari ketujuh bulan Syawwal sampailah Ibnu Taimiyyah ke Mesir dan diadakan satu persidangan berikutnya di benteng Kairo di hadapan para qodhi dan para ulama ahli fiqih dari empat madzhab. Kemudian syaikh Syamsuddin bin Adnan Asy-Syafi’I berbicara dan menyebutkan tentang beberapa fasal dari aqidah Ibnu Taimiyyah. Maka Ibnu
Taimiyyah memulai pembicaraan dengan pujian kepada Allah Swt dan berbicara dengan pembicaraan yang mengarah pada nasehat bukan pengklarifikasian.

Maka dijawab ” Wahai syaikh, apa yang kau bicarakan kami telah mengetahuinya dan kami tidak ada hajat atas nasehatmu, kami telah menampilkan pertanyaan padamu maka jawablah ! “. Ibnu Taimiyyah hendak mengulangi pujian kepada Allah, tapi para ulama menyetopnya dan berkata ” Jawablah wahai syaikh “. Maka Ibnu Taimiyyah terdiam “. Dan para ulama mengulangi pertanyaan berulang-ulang kali tapi Ibnu Taimiyyah selalu berbeli-belit dalam berbicara. Maka seorang qodhi yang bermadzhab Maliki memerintahkannya untuk memenjarakan Ibnu Taimiyyah di satu ruangan yang ada di benteng tersebut bersama dua saudaranya yang ikut bersamanya itu.

Begitu lamanya ia menetap di penjara dalam benteng tersebut hingga ia wafat dalam penjara pada malam hari tanggal 22, Dzulqo’dah tahun 728 H.

Sejarah ini telah ditulis oleh para ulama di dalam banyak literaul kitab yang mu’tabar di antaranya kitab Ad Duraru Al-Kaminah karya Ibnu Hajar, kitab Nihayah Al-Arab Fi Funun Al-Adab karya As-Syeikh Syihabuddin An-Nuwairy wafat 733H cetakan Dar Al-Kutub Al-Misriyyah dan yang lainnya.

BANTAHAN dari WEBSITE WAHABI

Dalam web www.darussalaf.or.id melakukan bantahan tentang ini Namun terkesan tidak nyambung dengan pembahasan [Lihat http://www.darussalaf.or.id/…/bantahan-terhadap…/ ]

Dalam bantahannya yang terkesan mencari celah, Penulis mengotak atik Tahun 707 H saat di ketahui pernyataan taubatnya Ibnu Taimiyyah namun dengan jalan yang menyatakan bahwa Kitab-kitab Ibnu Taimiyyah yang Ditulis Setelah 707 H membantah As’ariyah tentang Rukyatullah dan sifat al-‘Uluw (ketinggian) bagi Allah.

Jadi tesis diatas yang di ambil dari kitab Minhajus Sunnah BELUM BISA MENJAWAB bahwa fakta kisah taubat Ibnu Taimiyyah dalam sidang ulama adalah Kisah Fiktif. dan tesis setelahnya justru membahas penolakan atas Syiah padahal ini antara ASWAJA DAN WAHABI. Padahal dalam pembahasan blog ASWAJA memang sudah di sebutkan bahwa Ibnu Taimiyyah masih mengelak di belakang persidangan ULAMA 4 MAZHAB hingga akhirnya Mati di penjara. Adapun tesis panjang di bawahnya justru membahas pujian Ibnu Hajar yang di klaim oleh Wahabi terhadap keilmuan Ibnu Taimiyyah. Tentu ini juga tidak bisa menyangkal FAKTA BERTAUBATNYA IBNU TAIMIYYAH meski mungkin hanya pura -pura di depan majlis ulama 4 mazhab.

Wallahu A’lam


Artikel Terkait